Breaking News
Loading...

Recent Post

Selasa, 16 Februari 2016
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN IPA TENTANG PERTUMBUHAN MAKHLUK HIDUP DENGAN METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNANETRA KELAS III

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN IPA TENTANG PERTUMBUHAN MAKHLUK HIDUP DENGAN METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNANETRA KELAS III

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PELAJARAN IPA TENTANG PERTUMBUHAN MAKHLUK HIDUP DENGAN METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNANETRA KELAS III




Pendidikan bagi anak tunanetra saat ini tidak terbatas pada sekolah khusus / melalui sistem segregasi saja, akan tetapi mereka juga diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan melalui sistem intergrasi / terpadu. Bahkan saat ini anak tunanetra sudah lebih banyak yang mengikuti sistem terpadu dibandingkan dengan anak luar biasa lainnya seperti : anak tunarungu, tunagrahita, maupun tunadaksa. Keberhasilan pendidikan bagi anak tunanetra tidak terlepas dari peran guru kelas / guru mata pelajaran. Oleh karena itu, seyogyanya para guru memiliki pengetahuan / pemahaman tentang karakteristik dan layanan pendidikan bagi anak tunanetra. Dalam skripsi ini tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengethuan Alam (IPA) tentang pertumbuhan makhluk hidup terutama tumbuhan yang berkembang biak dengan biji di kelas III / A SDLB Negeri Kota Tegal tahun pelajaran 2008 / 2009 melalui metode karyawisata. Dalam penelitian ini, setting / tempat penelitian dilaksanakan di SDLB Negeri Kota Tegal yang beralamat di Jalan Nakula Utara No. 1 Kelurahan Kejambon Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal dan penelitian dilaksanakan dalam waktu 4 minggu yaitu pada bulan Juni sesuai dengan jadwal pelajaran IPA di kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III tunanetra pada mata pelajaran IPA tentang pertumbuhan makhluk hidup (tumbuhan biji) dengan menggunakan metode karyawisata. Data yang dipakai dalam penelitian ini diperolehdari data prestasi belajar siswa dan sumber data yang semuanya didapatkan dari siswa kelas III / A SDLB Negeri Kota Tegal dan sumber data yang dipakai dalam penelitian ini diperoleh dari siswa tunanetra kelas III SDLB Negeri Kota Tegal, orang tua siswa kelas III tunanetra, dan beberapa dokumen yang ada di SDLB Negeri Kota Tegal. Sedangkan tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tehnik tes, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode karya wisata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang tumbuhan mahluk hidup terutama tumbuhan yan
no image

UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN QUANTUM LEARNING TIPE MIND MAPPING DENGAN MEDIA PRESENTASI PREZI PADA SISWA KELAS X

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi siswa dalam mata pelajaran Akuntansi pada siswa kelas X Akuntansi SMK Murni 2 Surakarta melalui penerapan Pendekatan Quantum Learning Tipe Mind Mapping dengan Media Presentasi Prezi. Penelitian ini termasuk dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, pada tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dari penelitian ini adalah kelas X Akuntansi SMK Murni 2 Surakarta yang berjumlah 21 siswi. Sumber data berasal dari siswa, guru dan mitra kolaborator. Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Validitas data menggunakan Member Check, Triangulasi (data, metode, sumber, instrumen, dan analitik), expert opinion, dan key responden review. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Prosedur penelitian adalah model Kunandar. Berdasarkan hasil penelitian melalui penerapan Pendekatan Quantum Learning Tipe Mind Mapping dengan media Presentasi Prezi mampu meningkatkan partisipasi dan prestasi siswa dari pra survei ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Proses pembelajaran pada saat pra survei masih berupa ceramah sehingga persentase partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran hanya 57% saja dengan rata-rata nilai prestasi dalam pelajaran akuntansi pada angka 50. Pada siklus I sudah digunakan Presentasi Prezi yang dikombinasikan dengan tipe pembelajarn Mind Mapping meski masih terdapat beberapa kekurangan, hasil persentase partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran naik 12% dari 57% menjadi 69%, dengan kenaikan rata-rata nilai prestasi belajar Akuntansi siswa dari 50 menjadi 63. Kenaikan signifikan terlihat pada siklus II yang telah menerapkan Mind Mapping dengan media Presentasi Prezi secara optimal sehingga didapat hasil persentase partisipasi belajar sebesar 78%, dan rata-rata nilai prestasi belajar Akuntansi siswa sebesar 75. Simpulan penelitian ini adalah penerapan Pendekatan Quantum Learning Tipe Mind Mapping melalui penggunaan Media Presentasi Prezi mampu meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar Akuntansi siswa Kelas X Aku

Peningkatan kemampuan kognitif anak melalui permainan kartu angka dan gambar siswa kelas persiapan tunarungu wicara SLBN

Peningkatan kemampuan kognitif anak melalui permainan kartu angka dan gambar siswa kelas persiapan tunarungu wicara SLBN

Penelitian ini bertujuan untuk mencari model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui permainan kartu angka dan gambar siswa kelas persiapan tunarungu wicara SLBN Kendal tahun 2009 / 2010. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian siswa tunarungu wicara kelas Persiapan semester II SLB Negeri Kendal tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 7 siswa. Teknik analisis data digunakan analisis komparatif, artinya peristiwa atau kejadian yang timbul dibandingkan kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai hasil belajar kemampuan kognitif. Berdasarkan hasil pengolahan data dari pelaksanaan tindakan kelas dapat dijelaskan bahwa nilai awal kemampuan kognitif rata-rata kelas 50,57. Siswa yang mendapat nilai 70 atau lebih hanya 1 siswa dengan tingkat ketuntasan klasikal 14,28 %, pada siklus I nilai rata-rata kelas 60,85, siswa yang mendapat nilai 70 ke atas terdapat 4 siswa dengan tingkat ketuntasan 57,14% dan tinggal 3 siswa yang belum tuntas, pada siklus II nilai rata-rata kelas 80,28. Seluruh siswa mendapat nilai 70 ke atas artinya secara klasikal telah menuntaskan belajar kemampuan kognitif ketuntasan 100%. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui permainan kartu angka dan gambar dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas persiapan tunarungu wicara SLBN Kendal tahun pelajaran 2009 / 2010. 


The research aims to find an effective learning model to improve the children cognitive competency using numerical and image cards games in the preliminary deaf-mute graders of SLBN Kendal in the school year of 2009/2010. The research employed was a classroom action research. The subject of research was the preliminary deaf-mute graders of semester II of SLB Negeri Kendal in the school year of 2009/2010, 7 students. Technique of analyzing data used was comparative analysis, meaning the events or occurrences occurring were compared and then described into an assessment data form constituting the value of cognitive competency learning achievement. Considering the data procession of classroom action research can be described that the mean class cognitive competency prior score is 50.57. There is only one student obtaining 70 and more value with the classical passing level of 14.28%, in cycle I, the mean class value is 60.85, there are 4 students obtaining 70 and more value with the passing level of 57.14%, and there are only 3 students who had not passed, in cycle II the mean class value is 80.28. All of students obtaining 70 and more value meaning they classically have passed the cognitive competency learning with the passing level of 100%. Based on the explanation above, it can be concluded that the use of numerical and image card game can improve the cognitive competency of preliminary deaf-mute graders of SLBN Kendal in the school year of 2009/2010.

Senin, 15 Februari 2016
no image

ANALISIS TINGKAT KOMPETENSI GURU TIDAK TETAP (GTT) SMA DAN SMK

http://lib.unnes.ac.id/18908/1/7101406013.pdf

Peran guru sangat dominan terhadap pencapaian belajar siswa. Diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya. Guru dikatakan kompeten apabila telah menguasai empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagodik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Guru Tidak Tetap (GTT) SMA dan SMK di Kota Tegal dalam melaksanakan pembelajaran dituntut untuk memiliki empat kompetensi dasar. Karena kompetensi seorang guru merupakan seperangkat kemampuan dan kecakapan atau keahlian yang harus dimiliki oleh guru selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penguasaan kompetensi pedagodik, kepribadian, sosial, dan profesional GTT SMA dan SMK di Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi GTT SMA dan SMK di Kota Tegal. Populasi dalam penelitian ini adalah GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal yang berjumlah 349 guru. Sampel penelitian ini berjumlah 187 guru. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional cluster random sampling. Variabel yang diteliti adalah kompetensi guru dengan indikator kompetensi pedagodik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Analisis data menggunakan teknik deskriptif persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata penguasaan kompetensi pedagogik GTT SMA dan SMK di Kota Tegal dalam kriteria kompeten sebesar 70,11%, rata-rata penguasaan kompetensi kepribadian GTT cukup kompeten sebesar 66,30%, begitu juga dengan penguasaan kompetensi sosial sudah cukup kompeten sebesar 53,13%, namun rata-rata penguasaan kompetensi professional GTT masih kurang kompeten sebesar 44,58% Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa masih banyak GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal yang belum menguasai kompetensi professional dengan baik karena guru belum mengusai dalam hal pengembangan profesi secara keseluruhan. Saran yang dapat dikemukakan terkait dengan penelitian yang telah dilakukan adalah kemampuan pengembangan profesi dapat ditingkatkan GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal antara lain dengan cara: meningkatkan kegiatan ilmiah guru, penggunaan media secara maksimal, menerapkan variasi metode pembelajaran, mengembangkan diri secara inovatif dan kreatif tentang wawasan kependidikan, mengintensifkan kegiatan pelatihan (workshop), dan melengkapi sarana dan media penunjang pembelajaran.
no image

ANALISIS TINGKAT KOMPETENSI GURU TIDAK TETAP (GTT) SMA DAN SMK

http://lib.unnes.ac.id/18908/1/7101406013.pdf

Peran guru sangat dominan terhadap pencapaian belajar siswa. Diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya. Guru dikatakan kompeten apabila telah menguasai empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagodik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Guru Tidak Tetap (GTT) SMA dan SMK di Kota Tegal dalam melaksanakan pembelajaran dituntut untuk memiliki empat kompetensi dasar. Karena kompetensi seorang guru merupakan seperangkat kemampuan dan kecakapan atau keahlian yang harus dimiliki oleh guru selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penguasaan kompetensi pedagodik, kepribadian, sosial, dan profesional GTT SMA dan SMK di Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi GTT SMA dan SMK di Kota Tegal. Populasi dalam penelitian ini adalah GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal yang berjumlah 349 guru. Sampel penelitian ini berjumlah 187 guru. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional cluster random sampling. Variabel yang diteliti adalah kompetensi guru dengan indikator kompetensi pedagodik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Analisis data menggunakan teknik deskriptif persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata penguasaan kompetensi pedagogik GTT SMA dan SMK di Kota Tegal dalam kriteria kompeten sebesar 70,11%, rata-rata penguasaan kompetensi kepribadian GTT cukup kompeten sebesar 66,30%, begitu juga dengan penguasaan kompetensi sosial sudah cukup kompeten sebesar 53,13%, namun rata-rata penguasaan kompetensi professional GTT masih kurang kompeten sebesar 44,58% Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa masih banyak GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal yang belum menguasai kompetensi professional dengan baik karena guru belum mengusai dalam hal pengembangan profesi secara keseluruhan. Saran yang dapat dikemukakan terkait dengan penelitian yang telah dilakukan adalah kemampuan pengembangan profesi dapat ditingkatkan GTT di SMA dan SMK Tingkat Kota Tegal antara lain dengan cara: meningkatkan kegiatan ilmiah guru, penggunaan media secara maksimal, menerapkan variasi metode pembelajaran, mengembangkan diri secara inovatif dan kreatif tentang wawasan kependidikan, mengintensifkan kegiatan pelatihan (workshop), dan melengkapi sarana dan media penunjang pembelajaran.
no image

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT GURU DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI PADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS KELAS V

Pendidikan inklusif diterapkan menjadi altenatif baru sebagai upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan, dengan memperhatikan hak pendidikan bagi semua warga negara. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, termasuk warga negara yang memiliki kesulitan belajar, seperti kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan menghitung (diskalkulia) serta penyandang ketunaan (tunanetra, tunarungu, tunagrahita tunadaksa, dan tunalaras). Penelitian ini dilakukan di SD Inklusi Kota Tegal yakni SDN Kalinyamat Kulon 3, SDN Pekauman 8, dan SDN Slerok 2. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penghambat guru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca puisi pada siswa berkebutuhan khusus di SD Inklusi Kota Tegal. Faktor yang dianalisis merupakan faktor penghambat guru yang berasal dari faktor guru, siswa, dan proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknis analisis Miles & Huberman dengan uji validitas dan keabsahan data menggunakan derajat kepercayaan (credibility). Uji validitas dan keabsahan data dilakukan melalui ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensi. Triangulasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, waktu, dan teknik.Validitas dan keabsahan data diuji melalui perbandingan antara 2 atau lebih dari sumber yang ada, perbandingan hasil pengamatan dengan dokumen yang diperoleh. Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang menjadi penghambat guru antara lain: latar belakang pendidikan guru, pengetahuan guru tentang puisi, interaksi guru dengan siswa, latar belakang keluarga siswa berkebutuhan khusus, dan proses pembelajaran yang kurang optimal. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi dan masukan bagi gurudalam hal meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal-hal yang perlu dilakukan guru yaitu guru hendaknya mempelajari konsep dan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Guru hendaknya mengembangkan motivasi dalam diri untuk terus belajar. Guru juga perlu mempersiapkan perencanaan pembelajaran dengan baik, menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan inovatif, agar siswa lebih aktif. Siswa harus dimotivasi oleh guru agar lebih berminat dan tertarik terhadap pembelajaran.

no image

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT GURU DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI PADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS KELAS V

Pendidikan inklusif diterapkan menjadi altenatif baru sebagai upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan, dengan memperhatikan hak pendidikan bagi semua warga negara. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, termasuk warga negara yang memiliki kesulitan belajar, seperti kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan menghitung (diskalkulia) serta penyandang ketunaan (tunanetra, tunarungu, tunagrahita tunadaksa, dan tunalaras). Penelitian ini dilakukan di SD Inklusi Kota Tegal yakni SDN Kalinyamat Kulon 3, SDN Pekauman 8, dan SDN Slerok 2. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penghambat guru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca puisi pada siswa berkebutuhan khusus di SD Inklusi Kota Tegal. Faktor yang dianalisis merupakan faktor penghambat guru yang berasal dari faktor guru, siswa, dan proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknis analisis Miles & Huberman dengan uji validitas dan keabsahan data menggunakan derajat kepercayaan (credibility). Uji validitas dan keabsahan data dilakukan melalui ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensi. Triangulasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, waktu, dan teknik.Validitas dan keabsahan data diuji melalui perbandingan antara 2 atau lebih dari sumber yang ada, perbandingan hasil pengamatan dengan dokumen yang diperoleh. Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang menjadi penghambat guru antara lain: latar belakang pendidikan guru, pengetahuan guru tentang puisi, interaksi guru dengan siswa, latar belakang keluarga siswa berkebutuhan khusus, dan proses pembelajaran yang kurang optimal. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi dan masukan bagi gurudalam hal meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal-hal yang perlu dilakukan guru yaitu guru hendaknya mempelajari konsep dan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Guru hendaknya mengembangkan motivasi dalam diri untuk terus belajar. Guru juga perlu mempersiapkan perencanaan pembelajaran dengan baik, menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan inovatif, agar siswa lebih aktif. Siswa harus dimotivasi oleh guru agar lebih berminat dan tertarik terhadap pembelajaran.

no image

PERSEPSI GURU NON PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) TERHADAP KINERJA GURU PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) SD NEGERI

Sebagai guru diharuskan memiliki kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran yang sesuai dengan kompetensi yaitu : "terselenggaranya peningkatan mutu layanan pendidikan". Dengan permasalahan penelitian adalah bagaimana persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes Tahun Pelajaran 2008/2009? Tujuan penelitian untuk mengetahui kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009. Populasi penelitian ini adalah guru non Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 109 orang. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling yaitu mengambil seluruh guru non Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 109 sebagai sampel. Variabel penelitian ini adalah persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan metode angket (kuesioner). Sedangkan data menggunakan deskriptif dengan rumus presentase. Hasil penelitian menunjukkan kinerja guru Penjasorkes pada aspek kompetensi kepribadian sejumlah 102 guru atau 93,58% memiliki persepsi yang baik, aspek kompetensi pedagogik sejumlah 101 guru atau 92,66% memiliki persepsi yang baik, aspek kompetensi profesional sejumlah 95 guru atau 87,16% memiliki persepsi yang baik dan aspek kompetensi sosial sejumlah 91 guru atau 83,49% memiliki persepsi yang baik. Diantara aspek yang ada, paling kecil presentasinya adalah aspek sosial dikarenakan masih banyaknya guru Penjasorkes yang kurang mampu memberikan ide dengan bahasa yang baik bagi kemajuan dalam proses belajar mengajar maupun kurang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes dalam kategori baik, maka penulis memberikan saran: (1) Guru penjasorkes tingkat Sekolah Dasar di Dabin II Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes hendaknya mempertahankan kinerjanya bagi siswa maupun bagi sekolah karena dengan kinerjanya yang baik tersebut tidak hanya dapat membantu siswa mencapai hasil belajar yang optimal tetapi juga akan dapat membantu kelancaran kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sekolah secara umum, oleh karena itu mereka hendaknya berusaha mempertahankan kompetensinya sebagai pendidik melalui berbagai sumber baik membaca berbagai literatur kependidikan maupun lebih aktif dalam mengikuti penataran, pelatihan, seminar, maupun workshop guru yang dilaksanakan instansi terkait. (2) Bagi sekolah hendaknya turut berusaha mengembangkan kompetensi guru dengan memberikan kesempatan dan fasilitas bagi guru penjasorkes untuk mengembangkan kompetensinya. (3) Bagi jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keguruan Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai pencetak guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan hendaknya lebih memperhatikan kembali kualitas dari lulusannya agar saat mereka terjun sebagai tenaga pengajar di sekolah benar-benar memiliki kinerja yang baik
no image

PERSEPSI GURU NON PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) TERHADAP KINERJA GURU PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) SD NEGERI

Sebagai guru diharuskan memiliki kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran yang sesuai dengan kompetensi yaitu : "terselenggaranya peningkatan mutu layanan pendidikan". Dengan permasalahan penelitian adalah bagaimana persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes Tahun Pelajaran 2008/2009? Tujuan penelitian untuk mengetahui kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009. Populasi penelitian ini adalah guru non Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 109 orang. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling yaitu mengambil seluruh guru non Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 109 sebagai sampel. Variabel penelitian ini adalah persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan metode angket (kuesioner). Sedangkan data menggunakan deskriptif dengan rumus presentase. Hasil penelitian menunjukkan kinerja guru Penjasorkes pada aspek kompetensi kepribadian sejumlah 102 guru atau 93,58% memiliki persepsi yang baik, aspek kompetensi pedagogik sejumlah 101 guru atau 92,66% memiliki persepsi yang baik, aspek kompetensi profesional sejumlah 95 guru atau 87,16% memiliki persepsi yang baik dan aspek kompetensi sosial sejumlah 91 guru atau 83,49% memiliki persepsi yang baik. Diantara aspek yang ada, paling kecil presentasinya adalah aspek sosial dikarenakan masih banyaknya guru Penjasorkes yang kurang mampu memberikan ide dengan bahasa yang baik bagi kemajuan dalam proses belajar mengajar maupun kurang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes tingkat SD di Dabin II Kecamatan Brebes dalam kategori baik, maka penulis memberikan saran: (1) Guru penjasorkes tingkat Sekolah Dasar di Dabin II Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes hendaknya mempertahankan kinerjanya bagi siswa maupun bagi sekolah karena dengan kinerjanya yang baik tersebut tidak hanya dapat membantu siswa mencapai hasil belajar yang optimal tetapi juga akan dapat membantu kelancaran kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sekolah secara umum, oleh karena itu mereka hendaknya berusaha mempertahankan kompetensinya sebagai pendidik melalui berbagai sumber baik membaca berbagai literatur kependidikan maupun lebih aktif dalam mengikuti penataran, pelatihan, seminar, maupun workshop guru yang dilaksanakan instansi terkait. (2) Bagi sekolah hendaknya turut berusaha mengembangkan kompetensi guru dengan memberikan kesempatan dan fasilitas bagi guru penjasorkes untuk mengembangkan kompetensinya. (3) Bagi jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keguruan Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai pencetak guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan hendaknya lebih memperhatikan kembali kualitas dari lulusannya agar saat mereka terjun sebagai tenaga pengajar di sekolah benar-benar memiliki kinerja yang baik
Copyright © 2013 Penelitian Tindakan Kelas All Right Reserved